Rabu, 04 Juli 2012

KONDISI PAPUA TAK KONDUSIF

Yusak Reba: Papua Makin Tak Kondusif
Sejumlah Kasus Penembakan dan Kekerasan Tak Bisa Diungkap Aparat
JAYAPURA— Pasca sejumlah aksi penembakan dan kekerasan yang dilakukan orang
tak dikenal (OTK) terhadap warga Jerman Dietmar Pieper (55) di Pantai Base-G, Selasa
(29/5), disusul tewasnya seorang guru bernama Anton Arung Tambila setelah ditembak
OTK di Puncak Jaya, Kamis (31/5) serta pengeroyokan dan penikaman seorang mahasiswa
Uncen, Ajudh Jimmy Purba (19) di Reumnas 3 Waena Minggu (3/6), menunjukkan situasi
keamanan dan ketertiban Papua pada umumnya di Kota Jayapura makin tak kondusif.
“Siapapun dia entah WNI maupun warga negara asing di Papua memiliki potensi
ancaman dari pihak yang tak kita ketahui asal muasalnya,” ujar Koordinator Program
Institute for Civil Strengthening (ICS) Papua atau Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil
(LPMS) Papua Yusak E. Reba, SH,MH ketika diwawancarai Bintang Papua di Jayapura,
kemarin.
Dosen Hubungan Internasional Uncen ini mengutarakan, apabila diperhatikan kondisi
keamanan di Papua sebenarnya intensitasnya mulai berkurang atau bisa pulih. Tapi
ternyata masih terus terjadi. Di beberapa wilayah di Papua termasuk di Kota Jayapura
angka kriminalitas grafiknya terus tinggi. Tak jelas sebenarnya siapa yang akan menjadi
sasaran penembakan dan kekerasan berikutnya.
Pertama, negara memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memastikan warga negaranya
harus mendapat perlindungan keamanan atau harus mendapat aman dalam kehidupan
kesehariannya.
“Apabila terjadi bagi warga negara yang bukan warga negara Indonesia efeknya adalah
kemudian memunculkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dalam kaitan memberi
rasa aman bagi warga negaranya yang datang ke Papua,” tukas dia. Kedua, rakyat
sudah mulai tak percaya terhadap keberadaan negara dalam memberi rasa aman. Ketiga,
jika siapa saja berpotensi untuk terjadi kriminalitas bagi dirinya atau mendapat ancaman,
maka kemudian rakyat akan bertanya apa fungsinya negara kalau warga negaranya tak
memperoleh rasa aman.
“Kalau ini yang terjadi akan memberikan dampak buruk terhadap kinerja atau apapun
yang dilakukan pemerintah bagi kehidupan masyarakat terutama WNI sendiri khususnya
kita yang ada di Tanah Papua,” katanya seraya menambahkan, situasi ini akan
mempengaruhi pelbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Masyarakat akan was was ketika
harus bepergian.
“Saya sendiri secara pribadi mulai merasa ketakutan dan mulai was was dan
pertanyaannya adalah apakah memang kita harus masing masing menjaga diri kita karena
alat negara sudah tak mampu memberi rasa aman pada kita,” ujarnya.
Dia mengatakan, bila terjadi persepsi atau paradigma itu yang muncul maka seluruh
masyarakat kemudian mempertanyakan kredibilitas, kinerja serta peran institusi negara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar